Akademisi Nilai Transmisi Energi Gres Terbarukan Berpotensi Gagal

akademisi-nilai-transmisi-energi-baru-terbarukan-berpotensi-gagal-1

Merdeka. com – Guru Besar Institut Teknologi, Mukhtasor menyebut transmisi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang dicanangkan di dalam Program Undang-Undang (RUU) EBT bakal berpotensi gagal. Mengingat bagasi keuangan Anggaran Pendapatan serta Belanja Negara (APBN) buat pemenuhan tersebut tidak berpengaruh.

“Transmisi gaya akan berpotensi gagal. Karena kemampuan kita tidak berpengaruh di sana apalagi APBN dalam situasi tidak menawan juga dalam kondisi sulit, ” kata dia pada diskusi bertajuk ‘Regulasi EBT, Untuk Siapa? ‘, Sabtu (4/9).

Mantan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) itu mengatakan, penggunaan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap tak sedikit alias mahal. Kedudukan ini akan bisa menyusun portofolio Perusahaan Listrik Negeri (PLN) tidak bagus.

Seperti diketahui, di dalam RUU EBT ini negeri meminta langsung agar PT PLN (Persero) dapat memaksimalkan potensi pembangkit tenaga elektrik dari Energi Baru Terbarukan (EBT) atau PLTS.

“RUU EBT indah, asal cara ditempuh aturannya itu justru membangun ekonomi baru. Misalnya produsen turbin di kasih insentif. Nilai dalam negeri murah. Nanti dalam waktu tertentu tumbuh pendapatan pajak dalam jati nanti negara akan mampu ke depannya, ” jelas dia.

Dia menyampaikan, regulasi terkait EBT ini sebetulnya sudah menjelma khas di Indonesia serta ada sejak lama melalaikan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007. Namun UU tersebut telah ditinggalkan.

“Dalam rencana pembangunan masa panjang seharusnya semua bagian memegang ini. Karena sudah menjadi konsensus nasional. Dibanding sisi energi itu sungguh terbarukan dan emisi turunkan bagus sekali. Tetapi Jalan yang ditempuh adalah dengan membangun ekonomi produktif pada dalam negeri dan selalu pembangunan ramah lingkungan & proses-proses yang bisa dibuat untuk membangun kemampuan nasional, ” jelas dia.

Dia menambahkan, jika RUU EBT ini maksudnya adalah untuk menurunkan emisi karbon maka tidak langsung. Sebab cara-cara pemerintah digunakan saat ini sudah terpenuhi pemenuhannya untuk emisi karbon.

“Sekarang tersebut target sudah terpenuhi maka Menteri ESDM tidak perlu bingung-bingung sektor energi itu tidak memenuhi target. Menutup target. Saya yakin tersebut. Saya menyatakan dan hitungan-hitungan itu ada, ” nyata dia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Anyar, Terbarukan, dan Konservasi Gaya (EBTKE) Dadan Kusdiana melahirkan Rancangan Undang-Undang (RUU) EBT yang tengah disusun pemerintah bersama dengan Dewan Peserta Rakyat (DPR) RI hendak mengakselerasi kebutuhan pengembangan EBT di Indonesia.

“RUU EBT ini sifatnya percepatan, karena harus menggandakan realisasinya dan magnitude-nya gembung. Misalnya untuk listrik, kalau kita mau naik besar kali lipat, berarti harus menaikkan (EBT) sampai 12 ribu Giga Watt di dalam lima tahun, ” sirih Dadan dalam acara di dalam CNBC Indonesia Energy Conference: Membedah Urgensi RUU Gaya Baru dan Terbarukan, Senin (26/4).

Selain meningkatkan koordinasi dan sinergi antar sektor, sambung Dadan, keberadaan aturan EBT diharapkan mampu mempercepat dari sisi proses-proses investasi. “Ini diharapkan ada manfaat secara nasional, baik dari segi EBT maupun ekonominya bisa berjalan, ” jelasnya.

Salah satu sisi ekonomi yang disorot Dadan adalah keberlangsungan korporasi PLN, yang mana ia berharap upaya transisi energi akan memberikan hasil positif bagi finansial PLN. “Masuknya EBT yang berbasis listrik justru akan membenarkan kasnya PLN, ” tegasnya. [did]

Related Post