IDI Terima Laporan Pasien Dirawat di Rumah Sakit Melonjak Setelah Iduladha

Merdeka. com – Ikatan Tabib Indonesia (IDI) mencatat terjadi penambahan hunian rumah sakit di sebesar wilayah selama pandemi Covid-19. Terutama di delapan daerah yang menemui kasus Covid-19 paling banyak.

Wakil Pengurus Besar IDI, Adib Khumaidi mengungkapkan daerah tersebut seperti Medan serta DKI Jakarta . Tingkat menduduki di beberapa rumah sakit wilayah tersebut meningkat karena jumlah anak obat Covid-19 dirawat melonjak.

“Di beberapa RS, tingkat huniannya memang melonjak bahkan beberapa sudah penuh. Terutama di daerah yang menjadi perhatian saat ini. Daerah, Surabaya , Jakarta, Palembang, itu yang kita mampu laporannya, ” kata Adib masa dihubungi merdeka. com, Rabu (12/8).

Adib mengatakan, kemajuan beban hunian rumah sakit dalam bulan Agustus ini sebenarnya sudah diprediksi para pakar kesehatan maupun beberapa kepala daerah. Hal ini dikarenakan pada tanggal 31 Juli 2020 bertepatan dengan perayaan Hari Raya Iduladha.

Pada hari itu, diprediksi akan terjadinya penularan kasus Covid-19 yang pas masif. Begitu juga pada agenda 30 Juli dan 1 Agustus. Terjadi penularan yang cukup mulia karena masyarakat banyak yang pegangan.

“Sebenarnya pakar kesehatan dan pemimpin daerah sudah memprediksi tapi kami juga sudah mengantisipasi. Pascaperayaan Iduladha itu sangat berpotensi terjadinya penularan, ” ujar Adib

Pascaperayaan Idulfitri, Adib mengatakan, terjadi lonjakan kasus dengan membuat beban hunian rumah lara bertambah. Untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan pasien, sebenarnya PB IDI sudah menyarankan setiap provinsi untuk mendirikan suatu sistem yang mengkoordinasikan jarang pasien dan fasilitas kesehatan.

Menurut Adib, sistem koordinasi antara pasien dan fasilitas kesehatan tubuh ini sudah diterapkan beberapa wilayah. Salah satunya di Jawa Timur.

“Kalau di Jatim kan sudah ada. Jadi mampu memantau dan mengkoordinasikan semua kemudahan kesehatan. Baik di tingkat kabupaten/kota maupun di provinsi. Jadi kalau ada pasien yang butuh dirawat, maka langsung terkoneksi. Langsung dikasih tau harus dirujuk di mana, ” ujarnya.

Menurutnya, semua daerah di Indonesia harus mempunyai sistem pelaporan yang dimiliki oleh Jawa Timur. Sehingga mampu mengantisipasi bila terjadinya peningkatan total pasien yang dirawat seperti sekarang ini.

Dalam bentuk tersebut, akan terbaca dengan nyata, setiap pasien butuh fasilitas kesehatan tubuh apa saja. Sehingga sistem itu juga akan bisa membaca, pelayanan kesehatan dan rumah sakit mana yang mampu menangani pasien tersebut. Sehingga tidak menumpuk di rumah sakit umum pusat saja.

Adib menambahkan, bahwa tingkat hunian rumah sakit yang dilaporkan Satgas Covid-19 ke publik didapatkan dari Kemenkes maupun Dinas Kesehatan tubuh (Dinkes) setempat. Data dari Kemenkes dan Dinkes didapatkan dari di setiap rumah sakit di setiap kawasan. Saat ini, Adib mengakui bahwa dirinya belum mendapatkan laporan uraian terkait berapa jumlah pasien dengan bertambah di setiap rumah sakit.

Ia dan jodoh sejawatnya masih mencoba untuk melaksanakan suatu sistem agar bisa menginformasikan problematika yang dihadapi oleh para-para tenaga medis. Khususnya soal penambahan beban hunian rumah sakit.

“Kami belum dapat informasi resminya karena kita masih membuktikan membuat sistem informasi yang update terkait problematika teman-teman medis. Terutama anggota IDI tentang kasus peningkatan jumlah pasien ini, ” perkataan dia.

Ia menegaskan kembali bahwa informasi yang dia dapatkan merupakan keluhan para dokter soal kondisi ini. Untuk data pasti soal riwayat penyakit maupun usia pasien yang dirawat, dia belum memiliki datanya.

“Soal angka pastinya, kami (IDI) belum dapat. Soal overload-nya apakah bisa mempengaruhi kondisi teman-teman sejawat kami di lapangan itu belum. Kami baru dapat info sebab teman-teman saja, ” tutupnya.

Sementara itu, per 29 Juli lalu, Kementerian Kesehatan membuktikan RS di Indonesia masih siap untuk menampung pasien Covid-19. Peraduan yang dipakai hanya 45, 25 persen.

Plt. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Prof Abdul Kadir mengatakan, tempat tidur dengan terpakai baru sebanyak 1. 949. Sedangkan total tempat tidur yang disediakan untuk pasien Covid-19 berjumlah 4. 307.

“Hanya 45, 25 persen bed dengan terisi. Dari 4, 307, yang terpakai baru 1. 949, ” kata Kadir.

Berdasarkan laporan terakhir website kemkes. go. id, pada 29 Juli, pemerintah telah menetapkan 839 rumah kecil rujukan Covid-19. Terdiri dari 132 RS rujukan Covid-19 yang telah ditetapkan Kemenkes dan 707 sendi sakit yang ditetapkan melalui SK Pemerintah Daerah. Dari jumlah tersebut, total ranjang yang dimanfaatkan buat pasien Covid-19 sejumlah 188. 510 tempat tidur dan 23. 519 tempat tidur isolasi.

Pada level pelayanan dasar, sebesar 3. 000 Puskesmas juga melakukan tindakan prevensi, deteksi, respons di dalam penanganan Covid-19, di antaranya dengan menyiapkan pedoman/panduan Puskesmas dan rencana kesehatan di masa pandemi Covid-19.

Untuk data muatan rumah sakit yang terbaru, Satgas Covid-19 belum melaporkannya. Ketua Satgas Covid-19, Prof Wiku Adisasmito cuma mengingatkan masyarakat untuk mengurangi tanggung rumah sakit dengan mematuhi aturan kesehatan, seperti jaga jarak, memakai masker, rutin mencuci tangan, serta menjaga imunitas.

“Supaya tetap sehat, imunitasnya dijaga, kita tidak perlu ke rumah melempem. Sehingga garda terakhirnya tidak dibahayakan oleh virusnya, ” kata Wiku pada 24 Juli lalu di Gedung Graha BNPB, Jakarta. [gil]

Related Post