Kalender Kapolri terkait Lalu Lin Dinilai Tingkatkan Kepercayaan Jemaah

program-kapolri-terkait-lalu-lintas-dinilai-tingkatkan-kepercayaan-publik-1

Mandiri. com – Akademisi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Nurhasan Ismail mengapresiasi capaian program 100 hari Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo. Terutama di bidang berarakan lintas seperti tilang elektronik nasional atau ETLE nasional, layanan SINAR atau SIM Nasional Presisi yakni pelayanan SIM secara online & Samsat Digital Nasional (Signal).

“Korps Cerai-berai Lintas (Korlantas) Polri sudah bekerja keras melaksanakan program-program Kapolri, ” kata Nurhasan dalam keterangan tertulis di Jakarta . Seperti dilansir Antara, Minggu (16/5).

Kiai Besar Fakultas Hukum UGM itu menyatakan meskipun salah satu program unggulan, bagaikan penerapan tilang sistem ETLE belum dapat menegakkan atas semua pelanggaran lalu lintas angkutan jalan, namun tentu merupakan metode yang menyesatkan efektif dan efisien dengan pertimbangan antara lain, sanggup dilaksanakan selama 24 tanda terus menerus; mencegah adanya kontak langsung antara petugas dengan pelanggar sehingga dicegah potensi terjadinya penyuapan; benar cocok di masa pandemi sehingga penjaga lalu lintas dapat berpartisipasi dalam pencegahan pemaparan virus.

Menurut Nurhasan, permasalahan dengan dihadapi yaitu pelaksanaannya harus tetap dilandaskan pada profesionalitas sesuai dengan peraturan dan independen, yaitu terbebas lantaran pengaruh tekanan luar.

“Di samping tersebut, di tingkat masyarakat kudu ditumbuhkan kesadaran bahwa sifat mereka di jalan tetap dipantau oleh satu sistem teknologi atau kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan jalan mengemudi sesuai kaidah serta etika berlalu lintas, ” ujarnya.

Buat layanan SIM online, lanjut Nurhasan, selama menyangkut sambungan SIM tidak ada persoalan karena hanya bersifat administratif. Namun, untuk SIM mutakhir yang bisa dilakukan dengan daring hanya untuk ujian tertulis yang efektif.

Memang, kata Nurhasan, pernah dirancang suatu teknologi untuk ujian praktik secara online, tetapi sebaiknya lestari dilakukan secara langsung sebab menjadi bagian dari sosialisasi dan internalisasi atau penanaman nilai etika berlalu lin. Kecuali jika Indonesia ‘Safety Driving Centre’ (SDC, termasuk diklat mengemudi) sudah berstandar dengan baik dan terakreditasi, maka cukup dengan ijazah yang diterbitkan oleh ISDC.

Kaitannya dengan Samsat digital, lebih sendat Prof Nurhasan mengatakan Samsat digital tidak ada masalah karena selama ini telah berlangsung cukup baik.

“Yang perlu diperbaiki adalah dokumen elektronik (pembayaran pajak, SWDKLLJ, & PNBP) yang berjalan supaya diperbaiki agar absah secara asas, ” ujarnya.

Ia menambahkan, dokumen elektronik yang ada belum dibubuhi tanda tangan elektronik jadi seharusnya tidak dapat digunakan, namun faktanya sudah digunakan.

Dalam pada itu, ujarnya, kaitan pengesahan tahunan STNK yang masih ragu-ragu antara pengesahan secara elektronik atau secara manual. Pengesahan Tahunan STNK tanpa tanda tangan elektronik namun sudah diserahkan dan dimanfaatkan oleh pemilik. Sedangkan STNK yang ditandatangani secara petunjuk dalam proses diterbitkan serta dikirim ke alamat pemilik.

“Ini dengan perlu menjadi perhatian, ” kata Nurhasan. [ded]

Related Post