Karakter Cabul Gangguan Mental di Jember Divonis Dua Tahun

Karakter Cabul Gangguan Mental di Jember Divonis Dua Tahun

Merdeka. com – Majelis Hakim Pengadilan Kampung (PN) Jember memvonis Reza (23), hukuman 2 tahun penjara sebab melakukan tindakan asusila sesama macam kepada anak di bawah sempurna. Sidang putusan dibacakan majelis hakim pada Rabu (01/07) setelah sebelumnya sidang vonis beberapa kali ditunda karena putusan belum siap.

Vonis dua tahun kurungan ini lebih rendah dari tuntutan jaksa. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Ijmal (JPU) Dedi Joansyah Putra dibanding Kejari Jember menuntut terdakwa dengan hukuman 5 tahun penjara, karena melakukan kekerasan seksual terhadap MB, bocah 12 tahun. Pelaku & korban merupakan teman sepermainan dan sesama warga di Kecamatan Sumbersari, Jember.

Sebelumnya, awak penasehat hukum terdakwa, yakni Andrian Febrianto dan Frandy Risona Tarigan dalam pleidoi (pembelaan)nya, meminta majelis hakim untuk membebaskan terdakwa Reza dari segala tuntutan. Alasannya, sebab terdakwa mengalami retardasi mental ataupun kondisi disabilitas dengan tingkat kecendekiaan di bawah rata-rata.

“Saat persidangan, kita sudah mengajukan saksi ahli, yakni psikiater atau dokter ahli jiwa dari RSD dr Soebandi Jember, yang membuktikan bahwa terdakwa Reza hanya bisa bertanggungjawab sekitar 40 persen arah perbuatannya, ” kata Andrian Febrianto, kuasa hukum terdakwa, saat dikonfirmasi merdeka. com pada Kamis (2/7).

Kondisi disabilitas moral dari terdakwa ini sebelumnya sempat nyaris luput saat pemeriksaan pada ke polisi indah. Namun saat persidangan, pengacara menemukan adanya bukti kartu konsultasi lantaran terdakwa dengan dokter spesialis tali jiwa. Kemudian pengacara menelusurinya ke RSD dr Soebandi Jember.

“Saat persidangan, terdakwa juga tampak susah diajak berkomunikasi. Sehingga bersandarkan pasal 44 KUHP, kita ada bahwa terdakwa seharusnya tidak bisa dimintai pertanggungjawaban karena kurang sempurna akalnya, ” ujar Adrian.

Dalam pledoinya pula, adjuster terdakwa meminta agar polisi serta jaksa mengembangkan kasus ini kepada saksi AA (17) yang merupakan teman sepermainan terdakwa dan objek. Sebab, terungkapnya kasus ini bermula dari rekaman adegan cabul yang direkam oleh saksi AA dengan secara psikologis kondisinya normal. Adapun korban maupun terdakwa, sama-sama memiliki kecenderungan disabilitas mental.

Pada sidang dengan agenda penyeliaan saksi sebelumnya juga terungkap, saksi AA diduga yang menyuruh terdakwa dan korban melakukan adegan dursila tersebut dan direkam. Iming-imingnya, agar terdakwa dan korban menjadi populer.

Sebelum kejadian porno tersebut, saksi AA juga menunjukkan video porno kepada terdakwa & korban. Kejadian yang berlangsung di pinggir sungai pada Desember 2019 itu, kemudian dipergoki oleh kakanda korban sehingga melapor ke petugas.

“Dalam pembelaan, kita juga meminta agar majelis ketua memerintahkan terdakwa untuk menjalani rehabilitasi sosial melalui dinas terkait, karena kondisi mentalnya, ” tutur keluaran FH Ubaya ini.

Namun pembelaan penasehat hukum itu tidak sepenuhnya diterima majelis hakim. Alasannya, karena dari bukti gambar dan percakapan di sidang, tersangka Reza terlihat sadar dan mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Atas putusan itu, baik jaksa maupun pengacara terdakwa, masih menyatakan pikir-pikir, dan hendak menentukan sikap paling lambat 7 hari setelah putusan.

“Kalau kami secara pribadi lantaran penasehat hukum berpikir, akan banding. Sebab, dia tidak layak dihukum karena kondisi mentalnya. Tetapi kita masih berembug dengan keluarga terpidana, ” pungkas Andrian.

Terdakwa Reza yang mengalami keterbatasan mental itu, sehari-harinya bekerja serabutan seperti halnya sang ayah yang merupakan buruh tani. Karena kondisi ekonomi terdakwa yang terbatas, kejadian ini ditangani oleh pengacara secara probono (cuma-cuma). [gil]

Related Post