Mengikuti Labuhan Hondodento Bulan Suro di Pantai Parangkusumo

mengikuti-labuhan-hondodento-bulan-suro-di-pantai-parangkusumo-4

Lepas. com – Tahun baru penanggalan Jawa bertepatan dengan Bulan Suro atau dalam Islam disebut dengan Bulan Muharam. Kedua kebudayaan menganggapnya bulan ini istimewa. Aneka perjamuan, taradisi, ritual diselenggarakan. Lupa satunya tradisi yang rutin digelar di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta. Tidak lain ialah Labuhan Hondodento dengan diikuti oleh ratusan masyarakat dari Yogyakarta, Jawa Pusat, dan Jawa Timur.

Merekalah anak cucu dari Trah Hondodento dengan tersebar di 3 Provinsi yang menjadi peserta pokok dalam tradisi. Namun berkat keunikannya, Labuhan Hondodento selalu ramai diikuti oleh ratusan warga sekitar pantai mematok wisatawan. Labuhan Hondodento tersebut diprakarsai oleh Yayasan Hondodento yang berada di Yogyakarta. Asal usulnya tidak lepas dari campur tangan Ki Wiryodikarso pendiri awal Yayasan Hondodento.

Ki Wiryodikarso lebih dikenal secara nama Mbah Pleret. Dulunya ia merupakan salah kepala pejuang Nasional. Mempunyai tempat tinggal di Dusun Parak, Kelurahan Jambidan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul. Kini rumahnya dijadikan sebuah museum bernama Museum Padepokan Sumber Karahayon. Para anggota dan pengganti abu bakar mengadakan Labuhan Hondodento.

©2021 Merdeka. com/Fitria Nuraini

Payung longgar yang terdiri dari 3 lapis menjadi ciri khas Labuhan Hondodento. Terik mentari seolah tersamarkan dengan hembusan angin dan deburan aliran Pantai Parangkusumo. Sang ujung kunci dan perwakilan trah memulai ritual pembacaan ciri. Pengharapan agar mendapatkan ganjaran dan kesejahteraan lahir dan batin.

Labuhan Hondodento rutin digelar setiap tanggal 15 Sura, kalender Jawa. Pagi pukul 08. 00 hingga menjelang terang hari, menjadi agenda para trah Hondodento dan wisatawan yang ingin mengikuti Labuhan Hondodento.

©2021 Mandiri. com/Fitria Nuraini

Sebelumnya, Labuhan Hondodento dimulai dengan berkumpulnya anggota trah di Pendopo Cepuri Parangkusumo. Sebuah bangunan yang diyakini sebagai petilasan bertemunya Sinar Roro Kidul dengan Panembahan Senopati. Di kompleks petilasan inilah biasanya digelar tayangan wayang kulit sebagai per bagi wisatawan dalam ritus Labuhan Hondodento. Selepasnya, perarakan digelar untuk memeriahkan kegiatan sebagaimana prosesi labuhan menuju tepi Pantai Parangkusumo.

Prosesi labuhan kemudian dilanjutkan dengan kirab, memimpin sesaji dan ubo rampe dari Cepuri menuju Pantai Parangkusumo. Pasukan Bregodo Inden Katon menjadi barisan terdepan. Di belakangnya para perempuan pembawa sesaji yang dinaungi dengan payung kebesaran. Begitupula para wisatawan yang memasukkan arak-arakan hingga berada di tepian pantai.

©2021 Merdeka. com/Fitria Nuraini

Deburan ombak pantai selatan memang terkenal secara keganasannya. Pantai Parangkusumo berharta persis di sebelah barat Pantai Parangtritis. Selain anugerah daya tarik alamnya, Labuhan Hondodento juga selalu menyedot animo masyarakat. Berjajar tertib membentang duduk bersila berkunjung ke laut. Para peserta labuhan dengan khidmat mendaftarkan jalannya ritual dan ciri. Para peserta inti adalah perwakilan anggota Trah Hondodento yang berasal dari tiap kota Yogyakarta, Solo, Madiun, Kediri, Ponorogo, Bantul, serta kota yang lain

Pembacaan doa kemudian diringi dengan ritual caos dhahar kepada penguasa laut selatan. Barisan pembawa sesaji ialah para perempuan yang menggunakan kebaya berwarna biru muda. Bersiap membawa sesaji buat dihanyutkan ke Samudera Hindia. Melarung sesaji, tabur bunga, dan ubo rampe ke laut menjadi puncak rancangan Labuhan Hondodento.

©2021 Merdeka. com/Fitria Nuraini

Selepas dilarung, ratusan pengunjung kemudian berebut sesaji dan ubo rampe yang hanyut. Berdesak-desakan, hingga aliran pantai selatan yang besar tak menyurutkan nyali para-para pengunjung. Untung saja, pada setiap Labuhan Hondodento tim SAR setempat selalu mendarat tangan untuk menghindari peristiwa yang tidak diinginkan. Kini Labuhan Hondodento menjadi jadwal pariwisata tahunan di Bantul yang selalu menyedot menjawab. [Ibr]

Related Post