Nestapa Hotel di Solo, Merugi Miliaran Rupiah Akibat Pandemi Corona

Nestapa Hotel di Solo, Merugi Miliaran Rupiah Akibat Pandemi Corona

Merdeka. com – Sektor pariwisata khususnya perhotelan menjadi salah satu dengan paling terkena imbasnya sejak pandemi Covid-19. Kondisi tersebut dirasakan hotel-hotel di Solo, semenjak status KLB (kejadian luar biasa) diberlakukan 23 Maret lalu.

Hotel-hotel di Solo dan sekitarnya diperkirakan merugi sekitar Rp 800 juta hingga Rp 5 miliar lebih per bulannya. Besaran kerugian tergantung dari level bintang hotel itu. Makin tinggi level bintangnya, makin besar jumlah kerugiannya.

Pernyataan tersebut dikemukakan Humas Perkumpulan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, Sistho A Srestho. Secara kondisi tersebut, banyak hotel berbintang di Solo yang tutup & merumahkan para karyawannya.

“Sampai sekarang ini jumlah hotel yang sudah berhenti beroperasi ataupun tutup sementara masih 10 hotel. Akhir Mei nanti mungkin hendak ada perkembangan lagi, ” perkataan Sistho, Kamis (14/5).

Menurut dia, ada sejumlah hotel yang masih bertahan. Mereka memanfaatkan jalan work from home atau karantina mandiri dengan menawarkan paket long stay. Namun, dikatakannya, paket tersebut belum banyak berdampak pada okupansi hotel. Menurut dia, banyak hotel masih bergantung pada walk in guest dan pemesanan tamu melalui online travel agent (OTA).

Sistho menyebut, mayoritas bangsa saat lebih memilih melakukan karantina mandiri atau bekerja dari rumah masing-masing. Selain itu, mahalnya bea juga menjadi pertimbangan, apalagi tingkat pendapatan masyarakat menurun.

“Mereka lebih menahan untuk mengabulkan pengeluaran dan memilih di vila masing-masing, ” katanya.

Paket long stay tersebut, dianggap Sistho, merupakan bentuk inovasi layanan hotel untuk mendongkrak pemasukan hotel dari sisi kamar. Sementara sejak sisi food and beverage, hotel membuat paket makan. Di antaranya dengan layanan antar, paket berbuka puasa dan lainnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Praja Surakarta mencatat, selama pandemi corona terutama bulan Maret, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Solo sebesar 31, 09 obat jerih. Angka tersebut turun 23, 05 poin dibanding TPK pada Februari 2020 sebesar 54, 14 upah.

“Untuk Rata-rata Periode Menginap (RLM) seluruh tamu hotel bintang pada Maret 2020 tercatat sebesar 1, 50 hari. Terbang 0, 09 poin dibandingkan Februari 2020 sebesar 1, 41 keadaan, ” Kepala BPS Kota Surakarta, Totok Tavirijanto. [cob]

Related Post