Paras Luka Jakarta

Paras Luka Jakarta

Merdeka. com – Puluhan tahun Fatanina (75) hidup berhimpit di gang sempit. Rumahnya di Luar Baur Empang, Penjaringan, Jakarta Utara. Kawasan marjinal di antara megahnya ibu tanah air Jakarta.

©2020 Merdeka. com/Dwi Narwoko

Perkampungan miskin yang tersembunyi di balik gedung tinggi. Penghuni apartemen kaya di sana, sehari-hari disuguhkan bentuk kemiskinan . Sebaliknya, warga kampung Luar Batang hanya bisa memandang iri dan bermimpi tinggal di gedung tinggi. Tinjauan sangat kontras. Tentang wajah Jakarta.

©2020 Merdeka. com/Dwi Narwoko

Di satu (dari sepasang) barat Pelabuhan Sunda Kelapa, Fatanina dan warga lain menjalani hidup. Rumah mereka dari triplek dan asbes bekas. Ukurannya hanya dua, 5 x 3 meter. Dihuni satu keluarga. Mayoritas pendatang lantaran suku Bugis Sulawesi Selatan.

©2020 Merdeka. com/Dwi Narwoko

Fasilitas penunjang hak hidup jangan ditanyakan. Jauh sebab kata cukup. Anak-anak bermain pada antara sampah yang menumpuk. Tapi itu semua tak mengubah keceriaan mereka. Tumbuh dan berkembang menghiasi wajah Jakarta.

©2020 Lepas. com/Dwi Narwoko

Bagi Fatanina, kemiskinan bukan perkara angka. Tapi kenyataan pahit, tumbuh seorang diri dari welas cinta orang lain. Bantuan tunai atau sembako tak pernah mampir ke rumahnya. Pembagiannya tak merat. Memproduksi hidupnya makin merana.

©2020 Merdeka. com/Dwi Narwoko

Bukan tanpa alasan sandaran tak pernah datang. Mereka cuma pendatang. Tak punya KTP Jakarta.

©2020 Merdeka. com/Dwi Narwoko

Mereka berfungsi serabutan untuk tetap bertahan. Hidup di tengah himpitan berbagai kesulitan. Meski kebanyakan warga Jakarta pasif melihat kemiskinan yang ada di hadapannya.

©2020 Merdeka. com/Dwi Narwoko

Fatanina adalah sebagian kecil wajah Jakarta di ujung utara. Jakarta dengan terus berlari kencang, meski kakinya terluka. [noe]

Related Post