Seruan Telur Ayam Merosot, Pengusaha & Peternak di Sumsel Rugi Rp600 Juta Sehari

Langgas. com – Permintaan telur ayam di Sumatera Selatan turun drastis dampak pagebluk Covid-19. Akibatnya, pengusaha dan peternak merugi sekitar Rp600 juta bola lampu hari.

Ketua Gabungan Masyarakat Peternak Sumsel Ismaidi Chaniago mengungkapkan, kerugian terjadi sejak kala pandemi Corona karena daya kulak masyarakat berkurang. Kebutuhan telur di provinsi itu sebanyak 300 ton dengan harga normal Rp15. 000 per kilogram kini hanya Rp13. 000 per kg atau ada selisih Rp2. 000 per kg.

“Harga itu tak sebanding dengan pakan dan operasional peternakan. Jika dihitung kami puntung Rp600 juta per hari, ” ungkap Ismaidi, Selasa (12/5).

Pada hari-hari normal, introduksi dia, psar terbesar adalah pasar dan rumah makan. Namun, semenjak diberlakukan pembatasan sosial sehingga aksi lebih banyak di rumah menyusun peminatnya jauh berkurang.

“Biasanya yang beli anak-anak madrasah, pekerja kantoran, buruh, dan pengunjung pasar. Sekarang karena sekolah libur dan kerja dari rumah suruhan merosot, ” ujarnya.

Peningkatan permintaan biasanya terjadi saat lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Hanya saja tahun ini pihaknya pesimistis dapat meraup untung lebih mengingat perekonomian asosiasi sedang susah.

“Biasanya dua pekan sebelum lebaran sudah kelihatan banyak permintaan, tapi saat ini belum ada tanda-tanda. Permintaan masih minim sedangkan stok di peternak berlimpah, ” kata dia.

Jika kondisi ini bakal terjadi dalam waktu cukup lama, akan menambah beban peternak karena harus menutupi biaya operasional dan gaji pegawai. Namun, diringkus menetapkan belum ada usaha peternakan dengan gulung tikar akibat pandemi Covid-19.

“Mudah-mudahan saja situasi kembali normal, pengusaha sekarang langgeng bertahan sampai pandemi berakhir, ” pungkasnya. [rhm]

Related Post